Oleh:

ALPIN BASRI, S.Pd., M.Pd

(ASN Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara, Tenaga Pendidik di SMAN 10 Konawe Selatan)

 

DALAM mempelajari IPA, konsep merupakan abstraksi dari proses yang dilakukan selama pembelajaran. Enger dkk (2012) menyatakan bahwa siswa harus memiliki pengalaman konkret dengan konsep sebelum berpindah menuju hal-hal yang lebih abstrak. Mereka harus memiliki kesempatan untuk mencoba dan mengerjakannya, bukan hanya dari buku teks. Dengan kata lain untuk membangun konsep yang kuat pada diri siswa, seharusnya mereka mempunyai pengalaman konkret yang cukup berkaitan dengan konsep tersebut.

Pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa dari SD akan dibawa ketika berada di SMP. Konsep tersebut bisa diperoleh siswa dari lingkungan dan pengalamannya. Konsep awal siswa tersebut terkadang bertentangan dengan konsep umum yang telah disepakati oleh para ahli. Agar hal itu tidak terjadi maka perlu seorang guru untuk mengetahui apakah konsep yang dibawa siswa ke dalam kelas sudah benar atau salah. Jika dibiarkan oleh guru ini dapat menghambat proses belajar siswa untuk materi selanjutnya.

Sebagai desainer dalam pembelajaran, guru sebaiknya menggali pengetahuan awal siswa untuk mengetahui apakah konsep awal yang dimiliki siswa benar atau keliru. Guru sebaiknya mengidentifikasi miskonsepsi yang ada pada siswa dan mampu menemukan solusi untuk memperbaiki miskonsepsi tersebut. Oleh karena itu, sangat perlu guru mengetahui miskonsepsi yang terjadi pada diri siswa agar mampu memperbaiki atau mengubah miskonsepsi tersebut.

Miskonsepsi

Miskonsepsi adalah kondisi yang menunjukkan pengertian konsep yang berbeda dengan konsepsi yang diterima oleh para ahli (Novak, 1984), tidak akurat dari sebuah konsep, hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar (Suparno, 1998). Bentuk miskonsepsi dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan intuitif atau pandangan yang naif (Suparno, 1998).  Fenomena ini sering ditemui dalam pemahaman IPA, dan salah satu penyebabnya prakonsepsi  sebagai pegangan awal siswa tidak sesuai dengan konsepsi yang benar.

Driver (1985) mengemukakan hal-hal berikut terkait miskonsepsi.

  1. Miskonsepsi bersifat pribadi. Bila dalam suatu kelas siswa disuruh menulis tentang percobaan yang sama (misalnya, demonstrasi guru), mereka memberikan beragam interpretasi. Setiap siswa “melihat” dan menginterpretasikan eksperimen itu menurut caranya sendiri. Satiap siswa mengonstruksikan kebermaknaannya sendiri.
  2. Miskonsepsi memiliki sifat yang stabil. Kerap kali terlihat bahwa gagasan siswa yang berbeda dengan gagasan ilmiah ini tetap dipertahankan siswa, walaupun guru sudah berusaha memberikan suatu kenyataan yang berlawanan.
  3. Bila menyangkut koherensi, siswa tidak merasa butuh pandangan yang koheren sebab interpretasi dan prediksi tentang peristiwa-peristiwa alam praktis kelihatannya cukup memuaskan. Kebutuhan akan koherensi dan kriteria untuk koherensi menurut persepsi siswa tidak sama dengan yang dipersepsi ilmuwan.

Pada pendidikan dasar, Driver (1985) mengemukakan beberapa hal berikut.

  1. Terbentuknya miskonsepsi disebabkan karena siswa cenderung mendasarkan berpikirnya pada hal-hal yang tampak dalam suatu situasi masalah.
  2. Dalam banyak kasus, siswa tersebut hanya memperhatikan aspek-aspek tertentu dalam situasi masalah. Hal ini disebabkan karena siswa lebih cenderung menginterpretasikan suatu fenomena dari segi sifat makro benda-benda, bukan dari segi interaksi antara unsur-unsur suatu sistem.
  3. Siswa lebih cenderung memerhatikan perubahan daripada situasi diam.
  4. Bila siswa-siswa menerangkan perubahan, cara berpikir mereka cenderung mengikuti urutan kausal linear.
  5. Gagasan yang dimiliki anak mempunyai berbagai konotasi; gagasan siswa lebih eksklusif dan global.
  6. Siswa kerap kali menggunakan gagasan yang berbeda untuk menginterpretasikan situasi-situasi yang oleh para ilmuwan digunakan cara yang sama.

Miskonsepsi merupakan masalah dalam pembelajaran. Miskonsepsi menjadi faktor paling signifikan yang dapat memberikan dampak negatif untuk keberhasilan prestasi siswa (Özkan & Selcuk, 2012). Miskonsepsi mempengaruhi belajar siswa dari konsep ilmu dasar dan selanjutnya ke konsep yang lebih tinggi (Ayas dkk., 2010; Yates & Marek, 2014). Telah banyak penelitian yang menyatakan bahwa penguasaan konsep siswa rendah dan siswa banyak mengalami miskonsepsi pada konsep bunyi (Maurines, 1992; Merino,1998; Wittman dkk, 2003; Eshach & Schwartz, 2006; Caleon & Subramaniam, 2010; Eshach, 2014). Oleh karena itu, miskonsepsi pada siswa harus diidentifikasi dan diperbaiki jika dibiarkan akan mempengaruhi pemahaman dan penguasaan konsep siswa pada materi selanjutnya.

Bentuk-Bentuk Miskonsepsi IPA

Salah satu materi yang banyak miskonsepsi siswa pada materi IPA yakni materi tekanan. Berdasarkan pengalaman penulis, pada umumnya siswa berpikiran bahwa benda yang berat akan tenggelam sedangkan benda yang ringan akan terapung. Pada materi gelombang dan bunyi, pada umumnya siswa beranggapan bahwa bunyi hanya bisa terdengar di udara (Eschach & Schwartz, 2006; Fazio dkk., 2008; Caleon & Subramaniam, 2010). Siswa juga berpikiran bahwa bunyi merupakan sebuah obyek yang bisa mendorong sesuatu dalam arah gerakan bunyi (Wittmann et al., 2003; Eshach & Schwartz, 2006; Maurines, 1992). Siswa juga berpikiran bahwa cepat rambat gelombang ditentukan oleh frekuensi padahal cepat rambat gelombang hanya ditentukan oleh medium perambatannya sementara frekuensi ditentukan oleh cara gelombang dibangkitkan (Sutopo, 2016).

Miskonsepsi pada siswa juga bisa terjadi karena miskonsepsi yang terjadi pada guru. Masih ada guru yang berpikiran bahwa frekuensi mempengaruhi cepat rambat gelombang. Hal ini disebabkan karena guru terjebak pada persamaan matematis  . Selain itu, masih cukup banyak guru yang melaksanakan pembelajaran IPA hanya dengan berbicara dan menulis di papan tulis. Guru jarang melaksanakan kegiatan praktikum atau eksperimen.

Materi IPA bukanlah pembelajaran yang berisi sejarah IPA akan tetapi merupakan materi yang dapat diperoleh melalui proses pengalaman langsung sehingga pembelajaran lebih bermakna. Oleh karena itu, pembelajaran IPA tidak hanya dapat diberikan dengan berbicara dan menulis saja tetapi harus didasarkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari dan diperoleh melalui kegiatan percobaan atau langsung berinteraksi dengan benda yang dipelajari.

 Cara Mengatasi Miskonsepsi

Mengatasi miskonsepsi siswa merupakan tugas guru yang peting sehingga siswa tidak salah konsep yang dapat berdampak pada pemahaman materi selanjutnya. Hal ini tentunya perlu kerja keras guru untuk mencegah dan memperbaiki kesalahan konsep siswa. Salah satu cara yang dapat digunakan guru dalam mengatasi dan mencegah miskonsepsi siswa yaitu dengan cara memilih strategi pembelajaran yang tepat. Beberapa strategi yang dapat digunakan untuk memperbaiki miskonsepsi siswa yakni pendekatan perubahan konseptual (Özkan, 2012),  strategi POE (Kala & Yaman, 2010; Slisko, 2013; Kibirige, 2014; (Mamlok-naaman, 2015), dan Learning Cycle 5E (Senturk & Camliyer, 2016).

Pendekatan perubahan konseptual salah satu cara yang dapat menghilangkan masalah miskonsepsi dan dapat meningkatkan pembelajaran siswa. Pendekatan perubahan konseptual bertujuan menangani miskonsepsi siswa tentang suatu konsep, prinsip dan fenomena dalam pelajaran fisika (Özkan, 2012). Strategi perubahan konseptual efektif dalam memulihkan miskonsepsi siswa (Özkan, 2012; Chambers & Andre, 1997). Pendekatan perubahan konseptual telah meningkatkan kreativitas siswa serta kemampuan memecahkan masalah (Özkan, 2012).

Strategi POE merupakan salah satu strategi pembelajaran yang melibatkan siswa aktif di dalamnya, mendukung terjadinya perubahan konsep yang melibatkan siswa untuk memprediksi, mengamati, dan kemudian menjelaskan konsep yang diperoleh dalam pembelajaran berdasarkan fakta dan hasil yang diperoleh selama proses pembelajaran (Liew, et al, 1998; Yu-Lung Chen, 2013; Slisko, 2013). Strategi POE memiliki efek positif untuk membantu memperbaiki kesalahpahaman konsep siswa (Kibirige, 2014). Strategi POE mengaktifkan siswa dalam bertanya dan berguna dalam menghilangkan miskonsepsi siswa (Kala & Yaman, 2010).

Learning Cycle 5E merupakan salah satu model pendekatan konstruktivis yang  Ini terdiri dari lima tahap; keterlibatan (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation), elaborasi (elaboration) dan evaluasi (evaluation) (Senturk & Camliyer, 2016). Learning Cycle mengajak anak untuk melakukan penyelidikan ilmiah dengan meminta mereka untuk  mengeksplorasi bahan, kemudian membangun sebuah konsep, dan akhirnya menerapkan atau memperpanjang konsep untuk situasi lain, dengan demikian anak-anak akan mempunyai konsep yang benar dan terhindar dari miskonsepsi. Jadi Model 5E dapat membantu siswa dalam mengembangkan konsep sendiri dan membentuk perubahan konseptual yang konsisten  (Posner, 1982; Evan, 2004; Anil & Batdi ,2015).

Selain strategi pembelajaran, ada beberapa kebiasaan guru yang harus diperbaiki misalnya mengeroksi cepat PR yang dikerjakan siswa dan mengembalikan hasil ulangan siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa mengetahui apakah konsep yang diketahui telah benar atau keliru. Hal yang terpenting juga adalah guru terus belajar dan banyak membaca konsep maupun hasil-hasil penelitian terbaru agar referensi yang dimilikinya selalu bertambah. Guru juga sebaiknya aktif dalam kegiatan kolektif (MGMP) agar bisa saling berbagi informasi baik mengenai siswa maupun konsep. ***